"Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar."
"Rokok tidak berbahaya selama tidak ada korek."
DAR ART
Minggu, 20 Desember 2015
Sabtu, 12 Desember 2015
Semiotika
Sejak awal sejarah terciptanya
manusia di alam raya ini, komunikasi antar manusia
adalah bagian yang paling penting dalam kehidupan.
Selain kata-kata, unsur rupa sangat berperan
dalam kegiatan berkomunikasi tersebut.
Menurut AD
Pirous, komunikasi visual yang dalam bentuk kehadirannya seringkali
perlu ditunjang dengan suara -pada hakikatnya adalah suatu
bahasa. Tugas utamanya membawakan pesan
dari seseorang, lembaga, atau kelompok masyarakat tertentu kepada yang lain.
Sebagai bahasa, maka efektivitas
penyampaian pesan tersebut menjadi pemikiran utama seorang pendesain komunikasi
visual. Untuk itu, sang desainer haruslah: pertama,
memahami betul seluk beluk pesan yang ingin disampaikannya. Kedua, mengetahui kemampuan menafsir, kecenderungan
dan kondisi, baik fisik maupun jiwa dari manusia kelompok masyarakat yang
menjadi sasarannya. Ketiga, harus dapat memilih
jenis bahasa dan gaya bahasa yang serasi dengan pesan yang dibawakannya, dan
tepat untuk dapat dibicarakan secara efektif (jelas, mudah, dan mengesankan)
bagi si penerima pesan.
Komunikasi visual sebagai suatu
sistem pemenuhan kebutuhan manusia di bidang informasi visual melalui
lambang-lambang kasat mata, dewasa ini mengalami perkembangan sangat pesat.
Hampir di segala sektor kegiatan, lambang-lambang, atau simbol-simbol visual
hadir dalam bentuk gambar, sistem tanda, corporate identity, sampai berbagai
display produk di pusat pertokoan dengan aneka daya tarik.
Gambar merupakan salah satu wujud lambang atau bahasa visual yang di dalamnya
terkandung struktur rupa seperti: garis, warna, dan
komposisi. Keberadaannya dikelompokkan dalam kategori bahasa komunikasi
non verbal, ia dibedakan dengan bahasa verbal yang berwujud tulisan ataupun
ucapan.
Dikatakan Umar Hadi (1993), sebagai
bahasa, desain komunikasi visual adalah ungkapan ide, dan pesan dari perancang
kepada publik yang dituju melalui simbol berujud gambar, warna, tulisan dan
lainnya. Ia akan komunikatif apabila bahasa yang disampaikan itu dapat
dimengerti oleh publik. Ia juga akan berkesan apabila dalam penyajiannya itu
terdapat suatu kekhasan atau keunikan sehingga ia tampil secara istimewa, mudah
dibedakan dengan yang lain. Maka dalam berkomunikasi, diperlukan sejumlah
pengetahuan yang memadai seputar siapa publik yang dituju, dan bagaimana cara
sebaik-baiknya berkomunikasi dengan mereka. Semakin baik dan lengkap pemahaman
kita terhadap hal-hal tersebut maka akan semakin mudah untuk menciptakan bahasa
yang komunikatif.
Dalam hal bentuk atau
visualisasinya, desain komunikasi visual berhadapan dengan sejumlah teknik,
alat, bahan, dan ketrampilan. Ungkapan yang baik, akan lebih bernilai apabila
didukung dengan teknik yang memadai dan ditunjang kepiawaian dalam
mewujudkannya.
SEMIOTIKA/ILMU TANDA
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda
tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif.
Keberadaannya mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau
dibayangkan. Cabang ilmu ini semula berkembang dalam bidang bahasa, kemudian
berkembang pula dalam bidang desain dan seni rupa.
Semiotika berasal dari kata Yunani semeion,
yang berarti tanda. Ada kecenderungan bahwa manusia selalu mencari arti atau
berusaha memahami segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dan dianggapnya
sebagai tanda. Penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai
cabang keilmuan-dalam hal ini desain komunikasi visual dimungkinkan, karena
menurut Yasraf A. Piliang ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana
sosial sebagai fenomena bahasa. Artinya, bahasa dijadikan model dalam berbagai
wacana sosial. Bertolak dari pandangan semiotika tersebut, jika seluruh praktik
sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya–termasuk
karya-karya desain komunikasi visual – dapat juga dipandang sebagai
tanda-tanda. Hal itu dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri.
Ferdinand de Saussure merumuskan
tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak bisa dipisahkan – seperti
halnya selembar kertas – yaitu bidang penanda (signifier) atau bentuk
dan bidang petanda (signified): konsep atau makna. Berkaitan dengan
piramida pertandaan ini (tanda-penanda-petanda), Saussure menekankan dalam
teori semiotika perlunya konvensi sosial, di antaranya komunitas bahasa tentang
makna satu tanda. Jadi kesimpulan Yasraf berdasar rumusan Saussure adalah satu
kata mempunyai makna tertentu disebabkan adanya kesepakatan sosial di antara
komunitas pengguna bahasa tentang makna tersebut.
Sementara itu, Charles Sanders
Pierce, menandaskan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan medium tanda.
Manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda. Tanda dalam kehidupan
manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian tangan yang bisa diartikan
memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan setuju. Tanda bunyi, seperti
tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering telpon. Tanda
tulisan, di antaranya huruf dan angka. Bisa juga tanda gambar berbentuk rambu
lalulintas, dan masih banyak ragamnya.
Merujuk teori Pierce, maka
tanda-tanda dalam gambar dapat dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam
semiotik. Di antaranya: ikon, indeks dan simbol. Ikon adalah tanda yang mirip
dengan objek yang diwakilinya. Dapat pula dikatakan, tanda yang memiliki
ciri-ciri sama dengan apa yang dimaksudkan. Misalnya, foto Sri Sultan
Hamangkubuwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah ikon
dari Pak Sultan. Peta Yogyakarta adalah ikon dari wilayah Yogyakarta yang
digambarkan dalam peta tersebut. Cap jempol Pak Sultan adalah ikon dari ibu
jari Pak Sultan.
Indeks merupakan tanda yang memiliki
hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Atau disebut juga tanda
sebagai bukti. Contohnya: asap dan api, asap menunjukkan adanya api. Jejak
telapak kaki di tanah merupakan tanda indeks orang yang melewati tempat itu.
Tanda tangan (signature) adalah indeks dari keberadaan seseorang yang
menorehkan tanda tangan itu.
Simbol merupakan tanda berdasarkan
konvensi, peraturan, atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat
dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya.
Contohnya: Garuda Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki
perlambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar budaya
berbeda, seperti orang Eskimo, misalnya, Garuda Pancasila hanya dipandang
sebagai burung elang biasa.
Di dalam praktik bahasa, sebuah
pesan yang dikirim kepada penerima pesan diatur melalui seperangkat konvensi
atau kode, yang didefinisikan Umberto Eco di dalam A Theory of Semiotic
sebagai ”… aturan yang menjadikan tanda sebagai tampilan yang konkret dalam
sistem komunikasi”.
Fungsi teks-teks yang menunjukkan
pada sesuatu (mengacu pada sesuatu) dilaksanakan berkat sejumlah kaidah, janji,
dan kaidah-kaidah alami yang merupakan dasar dan alasan mengapa tanda-tanda itu
menunjukkan pada isinya. Tanda-tanda ini menurut Jakobson merupakan sebuah
sistem yang dinamakan kode.
Kode pertama yang berlaku pada
teks-teks ialah kode bahasa yang digunakan untuk mengutarakan teks yang
bersangkutan. Kode bahasa itu dicantumkan dalam kamus dan tata bahasa. Selain itu,
teks-teks tersusun menurut kode-kode lain yang disebut kode sekunder, karena
bahannya ialah sebuah sistem lambang primer, yaitu bahasa. Sedangkan struktur
cerita, prinsip-prinsip drama, bentuk-bentuk argumentasi, sistem metrik, itu
semua merupakan kode-kode sekunder yang digunakan dalam teks-teks untuk
mengalihkan arti.
Roland Barthes dalam bukunya S/Z
seperti dikutip Yasraf A. Piliang mengelompokkan kode-kode tersebut menjadi lima kisi-kisi kode, yakni kode hermeneutik, kode
semantik, kode simbolik, kode narasi, dan kode kebudayaan. Penjelasannya
sebagai berikut:
Kode Hermeneutik, yaitu artikulasi
berbagai cara pertanyaan, teka-teki, respons, enigma, penangguhan jawaban,
akhirnya menuju pada jawaban. Atau dengan kata lain, Kode Hermeneutik
berhubungan dengan teka-teki yang timbul dalam sebuah wacana. Siapakah mereka?
Apa yang terjadi? Halangan apakah yang muncul? Bagaimanakah tujuannya? Jawaban
yang satu menunda jawaban lain.
Kode Semantik, yaitu kode yang
mengandung konotasi pada level penanda. Misalnya konotasi feminitas,
maskulinitas. Atau dengan kata lain Kode Semantik adalah tanda-tanda yang yang
ditata sehingga memberikan suatu konotasi maskulin, feminin, kebangsaan,
kesukuan, loyalitas.
Kode Simbolik, yaitu kode yang
berkaitan dengan psikoanalisis, antitesis, kemenduaan, pertentangan dua unsur,
skizofrenia.
Kode Narasi atau Proairetik yaitu
kode yang mengandung cerita, urutan,narasi atau antinarasi.
Kode Kebudayaan atau Kultural, yaitu
suara-suara yang bersifat kolektif, anomin, bawah sadar, mitos, kebijaksanaan,
pengetahuan, sejarah, moral, psikologi, sastra, seni, legenda.
Kita semua seringkali menggunakan
makna tetapi sering kali pula kita tidak memikirkan makna itu. Ketika kita
masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan perabotan, di sana muncul
sebuah makna. Seseorang sedang duduk di sebuah kursi dengan mata tertutup dan
kita mengartikan bahwa ia sedang tidur atau dalam kondisi lelah. Seseorang
tertawa dengan kehadiran kita dan kita mencari makna; apakah ia mentertawai
kita atau mengajak kita tertawa? Seorang kawan menyeberang jalan dan
melambaikan tangannya ke arah kita, hal itu berarti ia menyapa kita. Makna
dalam satu bentuk atau bentuk lainnya, menyampaikan pengalaman sebagian besar
umat manusia di semua masyarakat.
Yang disebut makna menurut Saussure
tidak dapat ditemukan pada unsur itu sendiri, melainkan pada keterkaitannya
dengan unsur lain. Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan
simbol-simbol. Simbol mengacu pendapat James P. Spradley adalah objek atau
peristiwa apapun yang menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga
unsur: pertama, simbol itu sendiri. Kedua, satu rujukan atau lebih. Ketiga,
hubungan antar simbol dengan rujukan.
Semuanya itu merupakan dasar bagi keseluruhan
makna simbolik. Sementara itu, simbol sendiri meliputi apapun yang dapat kita
rasakan atau alami.
Menggigil bisa diartikan dan dapat
pula menjadi simbol ketakutan, kegembiraan atau yang lainnya. Mencengkeram
gigi, mengerdipkan mata, menganggukkan kepala, menundukkan tubuh, atau
melakukan gerakan lain yang memungkinkan, semuanya dapat merupakan simbol.
Salah satu cara yang digunakan para pakar untuk membahas lingkup makna yang
lebih besar adalah dengan membedakan makna denotatif dengan makna konotatif.
Spradley menjabarkan makna denotatif
meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (makna referensial). Sedangkan
menurut Pierce, tahap denotatif, yaitu mencatat semua tanda visual yang ada.
Misalnya, ada gambar manusia, binatang, pohon, rumah. Warnanya juga dicatat,
seperti merah, kuning, biru, putih, dan sebagainya. Pada tahapan ini hanya
informasi data yang disampaikan. Sementara Saussure mengidentifikasikan makna
denotatif sebagai makna-makna yang dapat dipelajari pada fisik benda-benda
(prinsip anatomis, material, fungsional).
Makna konotatif meliputi semua
signifikansi sugestif dari simbol yang lebih daripada arti referensialnya.
Menurut Pierce, dalam tahapan konotatif, kita membaca yang tersirat. Contohnya,
gambar wajah orang tersenyum, dapat diartikan sebagai suatu keramahan,
kebahagiaan. Tetapi sebaliknya, bisa saja tersenyum diartikan sebagai ekspresi
penghinaan terhadap seseorang. Untuk memahami makna konotatif, maka unsur-
unsur yang lain harus dipahami pula. Sedangkan catatan Saussure menyebutkan
bahwa makna konotatif adalah makna-makna lebih dalam (idiologis, mitologis,
teologis) yang melatari bentuk-bentuk fisik.
Menurut Judith Williamson dalam
bukunya Decoding Advertisement, dalam teori semiotika iklan menganut
prinsip peminjaman tanda sekaligus peminjaman kode sosial. Misalnya, iklan yang
menghadirkan bintang film terkenal, figur bintang film tersebut dipinjam
mitosnya, idiologinya, image-nya, dan sifat-sifat glamour dari
bintang film tersebut.
SEMIOTIKA STRUKTURAL DAN
POSMODERNISME
Dalam semiotika struktural berpegang
pada prinsip Form Follows Function, dengan mengikuti model semiotik
penanda atau fungsi. Semiotika struktural mengacu pada Saussure dan Barthes
dengan signifier (penanda, bentuk) dan signified (petanda, makna).
Hubungan antara penanda dan petanda relatif stabil, abadi.
Pada jantung strukturalisme ada
ambisi ilmiah untuk menemukan kode, aturan, sistem yang mendasari semua praktik
sosial dan kebudayaan manusia. Apa yang kita lihat pada permukaannya adalah
bekas-bekas sejarah yang lebih dalam, hanya dengan menggali di bawah permukaan
kita akan menemukan lapisan geologis atau rencana dasar yang memberikan
keterangan yang benar terhadap apa yang kita lihat di atas.
Pasca strukturalis mengacu pada
konsep intertekstualitas Julia Kristeva dan konsep dekontruksi dari Jacques
Derrida. Julia Kristeva misalnya, ia tergabung dalam Tel Quel Perancis
menggunakan istilah intertekstualitas untuk menjelaskan fenomena dialog antar
teks-teks, kesalingtergantungan antara suatu teks (karya) dengan teks (karya)
sebelumnya. Kristeva melihat kelemahan dalam konsep referensi dari formalisme
dan modernisme yang cenderung melecehkan kutipan atau kuotasi. Bagi Kristeva,
sebuah teks atau karya seni tidak lebih semacam permainan dan mosaik
kutipan-kutipan dari berbagai teks atau karya masa lalu. Ia mengistilahkan
semacam ruang ‘pasca sejarah’ yang di dalamnya beberapa kutipan dari berbagai
ruang, waktu, dan kebudayaan yang berbeda-beda saling melakukan dialog.
Sebagaimana yang dikemukakan Kristeva, sebuah teks (karya) hanya dapat eksis
apabila di dalamnya, beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain, silang
menyilang dan saling menetralisir satu dengan lainnya.
Sebagai proses linguistik dan
diskursif, Kristeva menjelaskan intertektualitas sebagai pelintasan dari satu
sistem tanda ke sistem tanda lainnya. Ia menggunakan istilah ‘transposisi’
untuk menjelaskan perlintasan di dalam ruang pasca sejarah ini, yang di
dalamnya satu atau beberapa sistem tanda digunakan untuk menginterogasi satu
atau beberapa sistem tanda yang ada sebelumnya. Interogasi tekstual ini dapat
menghasilkan ungkapan-ungkapan baru yang sangat kaya dalam bentuk maupun makna.
Interogasi ini dapat berupa peminjaman atau penggunaan (pastiche),
distorsi, plesetan, atau permainan makna untuk tujuan kritis, sinisme, atau
sekadar lelucon (parodi), pengelabuhan identitas dan penopengan (camp),
serta reproduksi ikonis (kitch).
Sebuah teks postmodernisme bukanlah
ekspresi tunggal dan individual sang seniman; kegelisahannya, ketakutannya,
ketertekanannya, keterasingannya, kegai- rahannya atau kegembiraannya,
melainkan sebuah permainan dengan kutipan kutipan bahasa. Kecenderungan
posmodernisme adalah menerima segala macam pertentangan dan kontradiksi di
dalam karyanya, disebabkan bercampuraduknya berbagai bahasa. Teks
posmodernisme, tidak bermakna tunggal, akan tetapi adalah aneka ragam bahasa
masa lalu dan sudah ada, dengan asal muasal yang tidak pasti, yang di dalamnya
aneka macam tulisan, tak satu pun di antaranya yang orisinal, bercampur dan
berinteraksi. Teks adalah sebuah jaringan kutipan-kutipan yang diambil dari
berbagai pusat kebudayaan yang tak terhitung jumlahnya.
Ciri-ciri pasca strukturalis:
pertama, tanda tidak stabil, sebuah penanda tidak mengacu pada sebuah makna
yang pasti. Dalam hal tertentu terjadi ambiguitas, yakni sesuatu yang dianggap sah.
Kedua, membongkar hirarki makna. Pada oposisi biner, hirarki makna itu
dibongkar. Ketiga, menciptakan heterogenitas makna, terbentuk pluralitas makna,
pluralitas tanda yaitu persamaan hak dalam pertandaan. Dalam postmodernisme
menggunakan prinsip Form Follows Fun dengan model semiotik penanda dan
makna ironis.
ANALISIS TANDA KARYA DESAIN
KOMUNIKASI VISUAL
Pembahasan karya-karya Desain
Komunikasi Visual dengan kajian semiotika akan menggunakan teori Pierce untuk
melihat tanda pada karya desain komunikasi visual (ikon, indeks, simbol), teori
Barthes untuk melihat kode: kode hermeneutik, kode semantik, kode simbolik,
kode narasi dan kode kebudayaan, serta teori Saussure untuk melihat makna
denotatif dan makna konotatif. Kemudian Judith Williamson dengan teori
semiotika iklan terkait dengan peminjaman tanda dan kode sosial juga
dimanfaatkan untuk memahami karya desain komunikasi visual yang menjadi contoh
kasus dalam tulisan ini.
Di samping itu, tentunya penggunaan
semiotika struktural dan semiotika pasca struktural menjadi pertimbangan khusus
dalam pembahasan ini. Hal itu menjadi penting karena untuk kasus tertentu,
semiotika struktural tidak bisa untuk menganalisa teks (karya desain komunikasi
visual), ketika teks tersebut keluar dari kode yang berlaku. Dengan demikian,
semiotika struktural yang stabil tidak bisa menjelaskan teks yang labil, untuk
itu diperlukan semiotika pasca struktural.
Berikut ini pembahasan karya desain
komunikasi visual dengan menggunakan semiotika sebagai metode analisis tanda:
1.
Desain
rambu ”Tambal Ban” karya Dodi Erfianto (dokumentasi Sumbo-LSKdeskomvis)
Pada desain rambu karya Dodi
Erfianto, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta
yang berjuluk ”Tambal Ban” terpampang bentuk dasar kotak yang di dalamnya
dilekatkan ikon ban dalam kendaraan bermotor yang sudah ditambal. Ikon ban
lengkap dengan dopnya itu digambarkan separo bagian. Uniknya, Dodi menggunakan
konsep parodi yang tentu saja mengundang senyum khalayak pemirsa. Ia
menampilkan visualisasi ikon ban tambalan yang ditambal dengan plester obat
luka sejenis handyplast. Selain itu, ia mengaduk-aduk persepsi penonton
dengan logika terbalik. Hal itu terjadi karena Dodi menghadirkan ban yang
ditambal sebagai ilustrasi papan petunjuk tempat tukang tambal bukan kompor
pres untuk menambal ban.
Karya Dodi ini terlihat meminjam
kode narasi (proairetik) yang oleh Roland Barthes dikatakan sebagai sebuah kode
yang mengandung cerita atau narasi perihal sebuah ban yang terluka oleh tindak
kekerasan oknum paku yang secara tidak sengaja digilas oleh roda yang menjadi
tempat berlindung ‘sang ban dalam’ tadi. Makna konotasi yang muncul, Dodi
berupaya memberdayakan benda bernama ‘ban dalam’ dengan konsep plesetan atau
parodi. Dalam benak Dodi tersungging konsep bahwa ketika sebuah ban terluka
maka sang pengendara pun ikut berduka, karena terpaksa ia menuntun kendaraannya
untuk ditambal.
Desain
kaos oblong Dagadu Djokdja: DJOKDJA DJOK SADJA, more tea, please (dokumentasi. Sumbo-LSKdeskomvis)
Desain kaos oblong Dagadu Djokdja
bertema DJOKDJA DJOK SADJA, more tea, please merupakan karya desain
komunikasi visual yang lebih mengedepankan unsur tipografi dan ilustrasi
sebagai kekuatan daya ungkap rancangan kaos oblong Dagadu Djokdja. Desain kaos
oblong ini menggambarkan ikon sebuah cangkir dengan gantungan kemasan the celup
dalam keadaan panas mengepul. Di bawahnya tertera teks ”DJOKDJA” pada huruf ”O”
dalam kata ”DJOKDJA” dihias dengan pendekatan dramatisasi huruf bergambar ikon
poci tempat menyedu teh, diberi label ”Tjap JAHE” dan diisi warna hitam. Bagian
bawah dari kata ”DJOKDJA” dituliskan kata ”DJOK SADJA” dan bagian paling bawah
digoreskan kata ”more tea, please”.
Desain oblong ini dikemas dengan
gaya poster. Visualisasi desain kaos oblong ini sangat sederhana. Ilustrasi
desain ini menggunakan idiom estetik dekoratif. Tanda visualnya, hanya
menampilkan ikon cangkir, poci, gantungan teh celup, dan lingkaran asap yang
digambarkan dengan gaya dekoratif. Kekuatan desain ini terletak dari
pemanfaatan ruang lebar (white space) sisa dari ilustrasi dan tipografi
yang secara global berbentuk segitiga sama sisi. Tipografi diambil dari
keluarga huruf sans serif yang ditebalkan (bold). Ciri huruf ini,
garis tubuhnya sama-sama tebal, tidak berkaki dan memiliki karakter lugas,
kokoh, dan kuat.
Secara visual, desain kaos oblong
ini meminjam kode narasi (proairetik) yang oleh Roland Barthes dalam bukunya
S/Z dikatakan sebagai sebuah kode yang mengandung cerita atau narasi perihal
seduhan teh kental dalam sebuah poci, yang dioplos dalam aroma teh nasgithel
(panas, legi tur kenthel – panas, manis dan kental) yang disruput
(diminum) hangat kicot-kicot memberikan nuansa kehangatan, kedamaian,
dan kenikmatan sambil ditingkahi obrolan santai dalam komunitas wedangan warung
angkring atau warung koboi.
Selain kode narasi, visualisasi kaos
oblong bertemakan ”DJOKDJA” juga menggunakan kode cultural atau kode
kebudayaan, khususnya aspek sejarah dan mitos. Kode kebudayaan yang dimaksudkan
Roland Barthes di sini adalah pada pemaknaan kata ”DJOKDJA” yang berarti sebutan
singkat dari sebuah kota yang bernama Yogyakarta. Sementara ”DJOKDJA” di mata
desainer Dagadu Djokdja mempunyai makna konotasi yang sangat sederhana. Dalam
imajinasi mereka, kata ”DJOKDJA” meminjam konsep kirata basa atau mengacu pada
ilmu gothak gathuk mathuk – maka kata ”DJOKDJA” diartikan dijok
saja (”DJOK” = dijok, ”DJA” = saja) atau dalam frame bahasa
Indonesia dimaknakan sebagai ”ditambah lagi”. Tambah lagi wedang teh
nasgithel-nya, wedang teh panas legi (gula batu) tur
kenthel. Secara umum, desain kaos oblong Dagadu Djokdja dengan tema
”DJOKDJA” ini menarik perhatian secara visual. Terjemahan kata-kata di
dalam susunan teks membuat orang mengulum senyum.
dalam susunan teks membuat orang mengulum senyum.
Iklan
Layanan Masyarakat Pemilu versi Sapu Lidi Kompas, 20/5/1997 (dok.
Sumbo-LSKdeskomvis)
Tanda verbal,
Teks berbunyi:
Sebatang lidi menjadi kuat bila menjadi sapu.
Sebuah bangsa menjadi kuat bila tetap bersatu.
Teks berbunyi:
Sebatang lidi menjadi kuat bila menjadi sapu.
Sebuah bangsa menjadi kuat bila tetap bersatu.
Tanda visual, Ilustrasi yang
ditampilkan dalam ILM (Iklan Layanan Masyarakat) ini adalah ikon sebuah sapu
lidi yang merupakan gabungan berpuluh-puluh lidi yang dijalin dalam sebuah
ikatan, sehingga bisa digunakan sebagaimana fungsinya. Sedangkan ikon sapu lidi
adalah symbol dari kata bersatu atau persatuan. Ilustrasi ikon sapu lidi yang
diletakkan secara diagonal, hampir memenuhi bidang iklan tersebut memberikan
kesan dinamis. Dengan idiom estetik metafora, keberadaannya memperkuat posisi
tanda verbal (teks) yang terdiri atas dua baris dan ditata secara horizontal.
Selain itu, ikatan sapu lidi tersebut secara implicit diposisikan sebagai
petunjuk arah yang menunjukkan teks di bawahnya. Dengan demikian, ILM yang
dicetak hitam-putih secara visual menjadi sangat kuat penampilannya karena
didukung latar belakang putih polos yang melingkupi seluruh frame dari
tampilan ILM tersebut.
Berdasarkan tanda verbal dan tanda
visual yang terdapat dalam ILM ini, maka kita bisa melihat pesan tersebut
dengan bantuan kode kebudayaan dankode semantik. Mengacu pada kode kebudayaan
seperti ditegaskan Barthes, maka tanda visual dalam ILM ini berupa ikon sapu lidi.
Mitos sapu lidi pada masyarakat Indonesia berkembang menjadi sebuah bentuk
perwujudan sikap saling membantu dari komunitas hidup bergotong royong. Makna
konotatif bisa juga dilihat dari mitos sapu lidi. Bersatu kita teguh, bercerai
kita runtuh, merupakan bentuk peribahasa yang mengacu pada konsep sapu lidi.
Bahwa sebuah lidi tidak bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk membersihkan
sampah misalnya. Sebaliknya, berpuluh-puluh lidi yang dijalin menjadi seikat
sapu lidi dapat dimanfaatkan untuk membersihkan sampah. Dilihat dari segi
fungsional, sapu lidi yang berfungsi sebagai alat membersihkan sampah,
mengandung makna denotatif.
Tanda visual berupa ikon sapu lidi
ini, menurut kode semantik, merupakan perwujudan dari loyalitas dan kebangsaan
masyarakat Indonesia yang selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan. Dengan
mengacu pada kode semantik maka antara tanda visual berupa ikon sapu lidi dan
tanda verbal berbunyi: ”Sebatang lidi jadi kuat bila menjadi sapu. Sebuah
bangsa jadi kuat bila tetap bersatu” saling melengkapi dan menjelaskan antara
yang satu dengan lainnya. Tanda visual berupa ikon sapu lidi menggunakan
prinsip pertandaan berupa peminjaman kode. Artinya, peminjamn tanda – berupa
sapu lidi yang terdiri dari kumpulan berpuluh-puluh lidi yang dijalin menjadi
sebuah sapu lidi dan berfungsi untuk membersihkan sesuatu dlm hal ini kotoran
atau sampah- untuk dipinjamkan kepada ILM ini sebagai penegasan bahwa sebatang
lidi jadi kuat bila menjadi sapu, maka sebuah bangsa pun menjadi kuat bila
tetap bersatu.
Tanda visual berupa ikon sapu lidi
juga menggunakan prinsip metafora. Arti dari prinsip metafora adalah meminjam
tanda pada satu bidang ke bidang lain secara langsung. Dalam hal ini terlihat
bahwa peminjaman tanda ikon sapu lidi memberikan arti bahwa sapu lidi merupakan
jalinan atau bersatunya puluhan batang lidi. Bersatunya lidi tersebut dipinjam
sebagai tanda yang memberikan arti kiasan dari bersatunya berbagai macam
manusia yang bernaung dalam sebuah bangsa. Dengan demikian, bersatunya lidi
dipinjam kodenya untuk menjelaskan bersatunya manusia.
Tanda verbal berupa teks bergaya
pantun mengandung makna konotasi. Struktur sintaksis berupa sintaksis kalimat
bernada ajakan atau himbauan. Artinya, dengan mengacu pada bersatunya
batang-batang lidi menjadi sapu dan mampu menyapu atau membersihkan segala
kotoran yang ada dilingkungan kita, maka diharapkan kita sebagai sebuah bangsa
selalu berupaya bersatupadu agar bangsa ini senantiasa kuat. Dalam konteks
Pemilu (Pemilihan Umum), pesan ILM tersebut adalah, jika rakyat bersatu
melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warganegara, maka Pemilu yang
bermuara pada pemilihan wakil rakyat di DPR-MPR yang dipercaya untuk memilih
Presiden dan Wakil Presiden dapat dilaksanakan dengan baik.
Dari analisis ini dapat ditarik kesimpulan,
ILM dengan tanda visual berupa ikon sapu lidi dan tanda verbal ”Sebatang lidi
jadi kuat bila menjadi satu. Sebuah bangsa jadi kuat bila tetap bersatu”,
menunjukkan tali hubungan yang erat antara tanda verbal dan tanda visual. Sebab
keduanya saling melengkapi dan menjelaskan keberadaan masing- masing unsur dari
tanda tersebut. Dengan demikian, kesimpulan dari ILM ini adalah tanda bermakna
sebagai metafora persatuan.
Oleh Sumbo
Tinarbuko
Minggu, 22 November 2015
MEDIA KOMUNIKASI
Media komunikasi adalah suatu alat atau sarana
yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak.
Teori Media
Teori Semiotik pesan
media sangat menarik dari sudut
pandang semiotik atas campuran sebuah simbol yang diatur secara spasial dan
kronologis untuk menciptakan sebuah pesan , kesan, dan penyampaian sebuah
gagasan untuk memunculkan sebuah makna dari khalayak.
Teori Sosiokultural pesan
media yang disampaikan untuk
sosialisasi dan kulturisasi serta penempatan sebuah makna yang bisa memunculkan
sebuah argumentasi dari khalayak kepada media agar dapat memberikan sebuah
informasi yang berkarakter dan tidak menimbulkan SARA.
Teori Sosiopsikologis
teori yang mengabungkan antara
sosial dan psikologis dari audiens yang menikmati sebuah media
Teori Sibernitika
pengaruh dari opini khalayak dari
suatu isi media adalah sebuah fenomena yang sangat menarik atau bisa dikatakan
sebagai teori “spiral ketenangan” menunjukan bahwa komunikasi interpersonal dan
media berjalan bersama dalam perkembangan opini masyarakat.
Teori Kritis
implikasi budayalebih luas, dalam
beberapa hal teori kritis ini disebutkan bahwa banyak ideologi atau paham dari
sebuah pemilik media yang seharusnya dapat dikritisi oleh khalayak agar tidak
ada keberpihakan dalam penyampaian suatu informasi.
Metafora Media
Menurut Joshua Meyrowitz media
komunikasi memliki tiga metafora yang mewakili sudut pandang media, antara
lain :
Media sebagai Vessel
sebuah gagasan bahwa media adalah
pembawa pesan yang netral
Media sebagai Bahasa
media memiliki unsur struktural
dalam penyampaian informasi dan tata kalimat yang dirancang menjadi satu
kesatuan yang disebut dengan bahasa.
Media Sebagai Lingkungan
metafora ini dilandasi dengan
gagasan bahwa hidup didalam lingkungan dengan berbagai informasi yang
disebarkan dengan beragam kecepatan,ketepatan, dan kemampuan dalam melakukan
interaksi.
Fungsi Media Komunikasi, Menurut Marshall Mc Luhan
Efektifitas
media komunikasi akan mempermudah
kelancaran dalam penyampaian informasi.
Efisiensi
media komunikasi akan mempercepat
penyampaian dalam sebuah informasi.
Konkrit
media komunikasi akan membantu
mempercepat isi pesan yang memiliki sifat abstrak.
Motivatif
media komunikasi akan lebih
atraktif dan memeberikan sebuah informasi yang dapat dpertanggungjawabkan.
Fungsi media Komunikasi, Menurut Burgon Dan Huffner
Efisiensi penyebaran informasi
penghematan dalam segi biaya,
tenaga, pemikiran dan waktu.
Memperkuat eksistensi informasi
media komunikasi yang hi-tech dapat
membuat informasi ataupun pesan lebih berkesan terhadap komunikan.
Menghibur
media komunikasi dapat menyenangkan
dan lebih menarik bagi audiens.
Kontrol Sosial
media komunikasi sebagai pengawasan
dalam sebuah kebijakan sosial
Jenis-Jenis Media Komunikasi,Berdasarkan Fungsi Media
Fungsi produksi
media komunikasi sangat berguna
agar menghasilkan sebuah informasi.
Fungsi reproduksi
media komunikasi berguna untuk
dapat meproduksi ulang dan mengggandakan sebuah informasi.
Fungsi penyampai informasi
media komunikasi berfungsi untuk
dapat mengkomunikasikan dan menyebarluaskan pesan kepada komunikan sebagai
sasaran informasi.
Karakteristik Media Komunikasi
Karateristik dalam media Intra Personal
pikiran merupakan umpan balik yang
diterima oleh pribadi seseorang dan hanya memutar dalam diri sendiri,arus pesan
yang disampaikan adalah persepsi yang memusat, efek yang dihasilkan dalam karakteristik
intrapersonal adalah sikap dan prilaku.
Karateristrik Inter Personal
seluruh panca indera digunakan
sebagai umpan balik dari sebuah informasi yang disampaikan, melalui kode
tertulis, lisan, isyarat serta arus pesan dua arah dan mempunyai efek terhadap
sikap yang tinggi dan rendah terhadap kognitif.
Karateristik Media Massa
bersifat melembaga, satu arah,
meluas dan serempak serta menggunakan peralatan teknis atau mekanis dan
bersifat terbuka.
Karateristik media publik
diterima oleh semua alat indera
baik lisan maupun isyarat arus pesan yang disampaikan bisa satu atau dua rah banyak
dan terbatas serta memiliki efek tinggi terhadap perilaku, akan tetapi rendah
terhadap kognitif.
Bentuk Media Komunikasi
Media Cetak
segala jenis barang/media
komunikasi yang dapat dilakukan melalui proses pencetakan dan dapat
dipergunakan sebagai sarana penyampaian pesan atau informasi. Contoh :
surat kabar, buku, brosur, majalan dan buletin.
Media visual atau media pandang
penerimaan pesan yang tersampaikan
melalui panca indera dan dapat dilihat . Contoh : gambar dan Foto.
Media audio
penerimaan pesan yang tersampaikan
dengan melalu indera pendengaran. Contoh: Radio dan Tape recorder.
Media Audio visual aid (AVA)
media komunikasi yang dapat dilihat
dan juga dapat didengar, untuk mendapatkan informasi secara bersamaan.
Contoh : televisi.
Jangkauan Penyebaran Media Komunikasi
Media Komunikasi Eksternal
media komunikasi yang dapat
dipergunakan untuk dapat menjalin sebuah hubungan dan menyampaikan sebuah
informasi dengan pihak luar. Media komunikasi yang sering digunakan
adalah :
- Media cetak media komunikasi tercetak dan tertulis agar dapat menjangkau publik ekternal, seperti pemilik saham, konsumen, pelanggan dan mitra kerja.[10]
- Media elektronik
Radio adalah sebuah alat eletronik yang
dihgunakan sebagai media komunikasi dan informasi. Radio dapat memberikan rangsangan
terhadap pendengaran. Dengan radio seseorang bisa mendapatkan sebuah informasi
dan berbagai peristiwa yang penting dan baru serta acara hiburan yang
menyenangkan.pengertian radio menurut ensiklopedi indonesia adalah penyampaian
pesan informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang
memiliki frekuensi kurang dari 300GHz (panjang gelombang lebih besar dari 1mm).
Televisi adalah sebuah alat penangkap
siaran yang menghasilkan gambar atau visualisasi. Kata televisi berasal dari
kata tele yang artinya jauh dan vision yang artinya jauh, dan dapat dijelaskan
bahwa televisi adalah tampak atau dapat dilihat dari jarak jauh.
Internet adalah jaringan komputer yang
terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Internet adalah media
komunikasi yang berbasis dengan teknologi informasi. Keunggulan media
komunikasi internet adalah mudah,cepat,murah, dan dapat dijangkau sampai
seluruh dunia. Internet adalah jaringan komputer yang terkoneksi secara global
dan dapat berkomunikasi secara bebas dan dapat bertukar sebuah informasi.
Media Komunikasi Internal
Media komunikasi internal adalah
sarana penyampaian informasi di antara publik internal yang bersifat
non-komersial. Baik penerima ataupun pengirim informasi adalah orang dari
publik internal. Media yang digunakan secara internal adalah:[14]
Telephone digunakan sebagai alat komunikasi
untuk menyampaikan pesan secara langsung melalui suara antara komunikan dan
komunikator serta hasil yang disampaikan dapat dirasakan secara langsung.[15]
Surat merupakan media komunikasi internal
dalam bentuk tertulis yang dilakukan oleh sender untuk memberikan informasi
kepada receiver. Akan tetapi, respon yang didapati tidak secara langsung
membutuhkan waktu serta biaya.[16]
Papan Pengumuman penyampaian informasi
secara internal melalui papan pengumuman hanya untuk memberikan sebuah
informasi dari receiver kepada publik internal.[17]
House journal (Majalah Bulanan) sebagai
media cetak dan tertulis. Penyampaian informasi tidak dilakukan secara
langsung. Akan tetapi, seorang reporter atau pencari berita membutuhkan waktu
untuk mencari sebuah informasi yang benar dan akurat,serta dapat dipercaya.[18]
Printed material (Media Komunikasi dan
Publikasi berupa Bahan Cetakan)sebagai media komunikasi yang dicetak seperti
pamflet dan brosur hanya memberikan informasi kepada publik.[19]
Media pertemuan dan Pembicaraan media
pertemuan seperti diskusi ataupun rapat menjadi media komunikasi,penyampaian
pesan secara internal agar kalangan tersebut bisa menyamakan dalam satu
persepsi.[20]
Elemen Media Komunikasi
Ilmuan media bernama Art
Silverblatt mengidentifikasi ada tujuh elemen dasar sebagai media komunikasi
baru, antara lain adalah :
- Keterampilan berpikir secara kritis untuk dapat mengembangakan penilaian independen terhadap suatu media.berpikir secara kritis adalah sebuah esensi dasar.
- Pemahaman terhadap sebuah proses komunikasi massa, sebagai komponen dan mengetahui media dalam beroperasi
- Kesadaran akan dampak media terhadap invidu dan masyarakat. Kesadaran agar khalayak tidak terjebak dalam sebuah informasi yang tidak dapat dipertanggunjawabkan sebuah keaslian berita atau informasi.
- Strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media. Khalayak dapat meyerap dan juga memilih sebuah media yang memberikan sebuah informasi yang akurat dan terpercaya.
- Sebuah kesadaran akan isi dari sebuah media atau teks yang menyediakan sebuah wawasan bagi kehidupan.
- Kemampuan untuk dapat menikmati, memahami dan menghargai dari isi media.
- Pengembangan keterampilan produksi yang efektif dan bertanggung jawab.
Keterampilan Melek Media Komunikasi
- Kemampuan dan kemauan melakukan suatu usaha untuk dapat memahami suatu isi media, memberi perhatian dan menyaring terhadap gangguan.
- Pemahaman dan pengharagaan kepada kekuatan pesan media.
- Kemampuan untuk dapat membedakan reaksi emosional dan rasional ketika menilai ataupun merespons isi media.[22]
- Pengembangan ekspektasi yang lebih tinggi terhadap media.
- Pengetahuan terhadap kesepakatan akan suatu genre atau aliran untuk dapat mengenali sebuah aliran dapat digabungkan dengan media lain.
- Kemampuan berfikir secara kritis tentang isi media dan tidak terlalu peduli dengan kredibilitas sumber apabila suatu informasi masih bersifat rancu.
- Pengetahuan tentang bahasa yang dipakai kalangan berbagai media dan memahami pengaruhnya.
Aplikasi Dan Implikasi
- Media sebagai komunikasi pendukung pembentukan khalayak
Teori McLuhan menstimulasi cara
pandang baru terhadap gagasan dan bahasan subjek untuk memahami suatu proses
komunikasi secara lebih luas dan terarah.Dan variabel dari komunikasi
memberikan gambaran dalam pengaruh terhadap media.Pengaruh media terhadap
masyarakat dapat dilihat dari beralihnya masyarakat lisan menjadi masyarakat
tulisan,dimana masyarakat pada zaman dahulu untuk menyampaikan sebuah informasi
mengunakan suara untuk menyapaikan suatu pesan, kemudian pada saat ini apabila
ingin menyampaikan sebauh pesan dapat dikirim melalui sebuah SMS.
- Institusi media memiliki peran penting dalam produksi budaya
Faktanya media memang sangat
mempengaruhi budaya dan tingkah laku serta pola pikir masyarakat.pengaruh
melalui media terhadap saluran interpersonal merupakan bagian integral dari
suatu budaya yang berskala dan besar seperti televisi dan media cetak.Banyak
para ahli yang menyatakan bahwa individu memiliki kendali besar atas hasil
transaksi media dalam kehidupan masyarakat.
- Audiens atau masyarakat penikmat media ikut serta dalam pesan media
Audiens dianggap populasi yang
sangat besar dapat hasil dari suatu transaksi media yang bisa dijadikan dua
khalayak sebagai khalayak pasif dan khalayak aktif,keduanya adalah penikmat
media.Akan tetapi dapat menjadi dua kategori yang difergen,dimana khalayak
pasif akan jauh lebih menerima suatu pesan yang diberikan media tanpa ada
penyortiran untuk kelayakan dalam pembentukan karakter atapun dalam kehidupan
sehari-hari. Sedangkan masyarakat yang aktif lebih memilih suatu isi pesan yang
akan disampaikan media.
Langganan:
Postingan (Atom)



